Aku hanya gadis pemungut beras
Tinggal di teras rumah juragan beras
Kebiasaanku memungut beras membuatku giat bekerja keras
Bulir demi bulir kukantongkan di plastik yang kupungut dari tumpukan sampah mengeras
7 tahun lalu aku anak penebas Beras, Punya nama suci di tanah kaum priyayi
Tinggal di rumah mewah, punya kamar sendiri dan tak pernah lupa mandi
Kuingat saat itu aku tak pernah telat menggosok gigi
Nasi yang setiap saat tertelan seperti daging menusuk gusi
Tapi saat ini perempuanyang rajin menyuapiku terbaring lemas
Kusut tak berdaya melawan tumor ganas
Lelaki ganas penebas beras pun kini tinggal bekas
Menghilang di telan kelamin lemas wanita berparas kudapan
kini aku hanya seorang pemungut beras
Makan dari getah kelamin bertuan gairah
Waktu berlanjut tak terkendali tak terasa lamunanku menghilang berbekas
Hingga akhirnya bulir bulir beras yang semestinya kumasak menjadi santapan rombongan ayam bekisar
Hari ini akhirnya ku berbagi
Aku tak sarapan pagi ayam pun dengan riang bernyanyi
Berbaris sepanjang teras yang kusayangi
Sekejap kupalingkan Wajah, Si ayam berulah lagi
Mengeluarkan sesuatu berwarna hitam menyengat yang kusebut Buasar
Sungguh pelajaran balas budi berarti
Mengingat luka kelamin berbau kasturi
(Jember,2010)
No comments:
Post a Comment